Oleh: nthie | Agustus 8, 2008

ibu

Terlalu banyak yang ingin kutulis tentang ibu..
ini hanyalah sepenggal kisahku tentang ibuku..

Ibuku memang wanita perkasa, dilahirkan dari sebuah keluarga sangat sederhana, hidup penuh kesederhanaan, membuatnya tampak menjadi wanita luar biasa dimataku, aku bangga menjadi putrinya, sebagai manusia ibuku juga memiliki banyak kekurangan..kekurangan ibuku yang paling menonjol adalah pemarah dan cepat tersinggung, tapi aku bisa memakluminya, keadaanlah yang mungkin membuat ibuku begitu keras, sehingga terlihat seperti marah, mungkin itulah cara mengungkapkan perasannya… aku sayang ibuku, aku ingin ia bahagia..
sejak kecil ibu sudah merasakan pahitnya hidup, ditinggal ayahnya (kakekku) untuk menikah dengan wanita lain adalah pukulan terberat buat seorang anak, kakekku menikah lagi dan meninggalkan nenekku dengan lima orang anak yang masih kecil, apalagi kehidupan nenek sangat pas-pasan, untuk menghidupi lima orang anaknya nenekku harus kerja banting tulang mengolah kelapa untuk dijadikan kopra, hal yang berat buat seorang perempuan ringkih seperti nenek. ..meski demikian nenek masih bisa menyekolahkan ibuku walaupun hanya tamatan diniyah (SMP)..
kehidupan ibuku berubah setelah ayah menikahi ibu saat usianya 24 tahun. Di awal-awal pernikahan mungkin merupakan masa-masa cukup bahagia buat ibu, meskipun hanya sebagai pegawai rendahan dikantor kecamatan dengan gaji yang pas-pasan namun ayah masih dapat memenuhi kebutuhan ibu..
Namun itu tidak berlangsung lama..seiring waktu berlalu ibu melahirkan delapan orang anak, otomatis kebutuhan ekonomi keluarga ibu meningkat,
gaji bapak yang pas-pasan tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan 10 kepala..apalagi kondisi ekonomi yang terus-terusan tidak menentu, ibu pernah bercerita pada ku, pada saat anak ketiga ibu lahir (kira-kira sekitar tahun 60an, kehidupan ekonomi keluarga mulai memburuk, makanan yang ada tidak mampu mencukupi mulut-mulut kecil kakakku yang selalu kelaparan, akhirnya ibu mengolah singkong liar yang tumbuh dihalaman rumah menjadi makanan pengganti nasi (dalam bahasa kami disebut jepa) namun setelah mengkonumsi makanan tersebut 3 orang kakakku termasuk ibu kerancunan, untungnya rumah kami saat itu tidak jauh dari rumah sakit sehingga bisa diobati segera. mendengar cerita ibu saya membayangkan bagaimana selanjutnya ibu membesarkan delapan orang anaknya…(ah..ibu kau memang wanita perkasa) aku tidak dapat membayangkan apajadinya kalau akau harus menjalani kehidupan seberat perjalanan ibu menghantar kami menjadi manusia…
Untuk memenuhi kebutuhan hidup bapak dan ibu terpaksa harus nyambi, bapakku berkebun dipekarangan yang tidak seberapa luas, sedangkan ibu membuat jajanan, dan kami yang menjajakan jajanan ibu, itu berlangsung sampai aku kelas 3 smp (aku adalah anak kedelapan ) saat aku kelas lima SD bapak meninggal dunia, ibuku tentunya sangat kehilangan, tidak ada lagi tempatnya tuk berbagi duka.. namun demi kami anak-anaknya ibu memendam seluruh kesedihannya, bersikap tegar meskipunaku sadari saat itu ibu begitu rapuh…
sepeninggal bapak kehidupan kami semakin sulit dengan pensun bapak yang tidak seberapa ibuku terus berjuang untuk bisa menyekolahkan kami meneruskan cita-cita dan amanat bapak agar dapat menyekolahkan kami. Setegar-tegarnya ibu dia juga hanya manusia biasa, kerapuhan terus menggerogotinya, aku juga kerap mendapati ibu menangis dalam shalatnya…(maafkan kami bu, kehadiran kami mungkin membuatmu menderita) untuk bisa memenuhi kebutuhan uang sekolah kami ibukku terpaksa harus mengangunkan pensiun bapak ke bank, ini berlangsung sampai aku selesai kuliah………Bersambung
meski demikian ibu tidak pernah berputus asa,..ia terus memacu kami untuk terus sekolah meski dalam keprihatinan, untunglah…pada saat aku mulai kuliah beberapa orang kakakku sudah mulai kerja, kakak yang tertua menikah pada umur 16 tahun, sehingga tidak dapat membantu banyak keuangan kami, diusianya yang masih begitu muda, kakak juga harus menghidupi keluarganya,..meskipun kakakku sudah mulai bekerja, tidak lantas membuat keuangan ibu berubah, ibu tetap banting tulang bekerja keras…prinsip ibu yang selalu aku ingat bahwa ia tidak pernah mau untuk tergantung pada siapapun, meski itu anak-anaknya sendiri. kehidupan ini berlangsung terus sampai kami selesai kuliah..
namun satu yang aku syukuri hingga kini..ibu masih dapat menikmati semua jerih payahnya selama ini, dihari tuanya (sekarang ibu berumur 78) ibuku dapat melihat anak-anaknya hidup mandiri meski tidak dibilang berkecukupan. sekarang ibu bisa hidup tenang diantara anak dan cucu-cucunya, uang pensiun ayah dapat dinikmati ibu sepenuhnya, kami anak-anak iu juga selalu ingin memenuhi semua keinginan ibu, terutama aku..aku ingin dimasa tuanya ibu bahagia…, aku juga sangat bersyukur kami mampu memenuhi satu keinginan ibu yang begitu diidam-idamkannya, yakni naik haji…aku melihat begitu bahagianya ibu ketika kami memberitahukan kejutan ini padanya. Ibu hampir tak percaya..karena selama ini ibu menganggap keinginannya mustahil, tetapi tahun 2006 kemarin keinginan ibu itu terwujud, yah..mungkin ini hadiah terindah Allah buat semua perjuangan ibu..dan aku yakin Bapak bisa melihat semua ini dengan bahagia

melalui tulisan ini “aku anakmu” mengucapkan beribu trima kasih untukmu
karena dengan perjuanganmu yang tidak kenal lelah aku menjadi yang sekarang ini
i love you mam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: